ternyata bukan cuma umur, pekerjaan, status, dan cara pandang—yang banyak sekali dibahas orang sekarang—seseorang sudah dikatakan menjadi dewasa. kebanyakan dari kita pun juga sedikit banyak menyadari bahwa kebiasaan-kebiasaan kecil yang dulu kita lakukan semasa anak-anak sudah nggak kita lakukan lagi di kehidupan ‘dewasa’. Sekali pun kita menyebutnya ‘favorit aku banget nih’, ternyata di kehidupan dewasa sudah tidak lagi relevan. oh, atau bahkan kamu sengaja menghindarinya.
dari berbagai macam alasan yang kita buat. mulai dari alasan kesehatan, takut dianggap tidak sesuai dengan umur, terbawa kebiasaan sekitar, secara sukarela menanggalkan yang lama dan beralih pada sesuatu yang baru, atau keadaan yang membuat kita menjadi seperti yang sekarang.
tapi beberapa di antara kita, tetap memilih membawanya dari masa ke masa. ada perasaan senang dan sedih di situ.
seperti mereka, yang dilahirkan hanya untuk bertiga bersama ayah dan ibu, menjadi dewasa tidak lagi sering ada kata ‘bertiga’ itu mengikuti langkahnya. ia hidup untuk dirinya juga memanggul asa dari ayah dan ibu. namun harus meninggalkan keduanya.
seperti mereka, yang dilahirkan menanggung beban moral teladan baik bagi saudara-saudaranya, menjadi dewasa berarti harus berkali-kali lipat lebih berani. bahkan mereka sendiri heran, kekuatan manusia super apa yang mengilhaminya?
pun mereka yang mengemban dua peran sekaligus. selalu berada di posisi antara. ibarat memenangkan sebuah perlombaan, menang tidak kalah juga tidak. menjadi dewasa bagi mereka sudah tidak terhitung lagi seberapa banyak pertimbangan yang telah mereka buat untuk menyeimbangkan dari sekian banyak antara. sampai mereka pun lupa bahwa hidupnya yang sekarang juga di antara dua hal, sudah terlalui dan masih menjadi opsi.
tidak lupa dengan mereka yang dilahirkan lebih lambat dari yang lain. menjadi dewasa ketika semua sudah beranjak dewasa. yang satu terhimpit keinginan untuk cepat-cepat menjadi dewasa karena mengejar sesuatu, beberapa diantaranya berusaha memperlambat waktu karena menggenggam isi dunia terlalu besar untuk dijangkau dalam waktu yang singkat.
mereka—kita—semua merasakan chocolate milk turns into americano. mulai terbiasa menerima hal-hal yang tidak lagi membawa kita pada kehangatan dan rasa manis yang menagih. justru merangkul sesuatu yang dulu sangat kita hindari. misalnya, menghindari perintah ibu membeli sekotak rokok untuk bapak karena benci asap rokok, menjadi membeli dua untuk digunakan bersama. menghindari berpergian sendiri karena tidak bisa membaca peta, yang kini tersesat pun tak apa yang penting sampai tujuan dengan selamat. menjauhi segelas kopi dingin yang overrated dari kalangan dewasa, sekarang menjadi bagian dari mereka yang memberikan nilai bintang lima.
kalimat-kalimat klise yang dulu kita anggap biasa saja karena tidak bersinggungan langsung dengan titik temunya, justru sekarang jadi kalimat yang paling magis. seperti jangan menyukai atau membenci sesuatu terlalu berlebihan sebab Yang Punya Hidup bisa saja mengambil rasa suka atau bencimu dalam sekejap dan menggantikannya dengan hal yang berkebalikan. jadi*, secukupnya!*